Kueh Cingcin

ciri penganan pulau Jawa selalu mengandung unsur  terigu, tepung beras, gula merah, kelapa dan dikemas daun pisang.  Begitu juga kueh cingcin (nama lain:ali agrem). boleh saja kita namai ringcake agar bisa mengglobal seperti chinese atau japanese food (2 negri yg sukses mentransformasikan makanannya menjadi pilihan warga dunia). Meski bukan khas rangkas, kue ini kita kenal akrab. Cuhcur juga dikenal di jawa bagian timur dengan nama serupa, cucur. mungkin karena cara masaknya dicucurkan dan digoyang-goyang dengan sumpit tanpa dibalikkan. yang mungkin agak khas banten adalah Jojorong. Di daerah kalimantan ada juga jenis seperti ini sebagaimana Leumeung atau Lemang. Nenek moyang kita pastinya telah berbagi kearifan kuliner.

kueh-cingcin

yang paling menarik adalah Leupeut. Ide cemerlang cara mengemasnya dalam lilitan daun kawung membuat cara membukanya pun menjadi unik. Temuan leluhur kita mengantisipasi ketan yang lengket. sepertinya tehnik mengemas ini khusus diciptakan untuk kebutuhan logistik dalam perjalanan seperti Kupat atau timbel. saat ketika coolbox, tupperware atau plastickwrap belum ada.

apemjojorong

090107_170510

TASION

Sejarah kereta api di Indonesia mulai di tahun 1864, di Rangkas saya tidak tau persis. Sudah pasti fasilitas ini tersimpan di hati orang Rangkas. Gerbong-gerbongnya menyimpan banyak cerita dan setiap orang rangkas selalu memiliki satu dua kisah unik tentangnya. Kami, anak-anak kecil di Leuwiranji dan beberapa kampung sekitarnya punya pengalaman membuat pisau kecil dari tutup botol atau paku yang kita taruh di rel menunggu dilindas roda kereta. Lokomotif tua di Dipo menjadi salah satu tempat bermain. Menghayalkan menjadi cowboy atau indian yang merampok kereta.

doc from bowo

foto dok. Bowo herdy

Ada Komunitas IKARDA yang bersetia bertahun-tahun dengan transportasi ini.  Barangkali salahsatu anggotanya itu Soekarno :-D . Saya liat di http://www.arsip.banten.go.id ada foto dia baru keluar dari tasion (psst…berani bertaruh dia pasti tidak beli karcis).

tasion

PAL 0 KM

Letaknya kiri terminal lama. Kalo berminat dengan romantisme, pada dasarnya kita butuh simbol awal melangkah. Kosmologi ini tersimpan dan terwariskan di alam fikiran. Tetap terjaga karena memang naturally kita butuh. Karenanya dalam wujud fisik perlu diadakan. Jika tidak pal ini karena alasan tertentu, atuh hayu geh nu mana…

titik0-b

SAIJA ADINDA

saiaja-adinda

Ini nama perpustakaan publik di Rangkas. Sebelumnya ada di bangunan berdinding bilik di jalan letnan muharram.  Berbagai ruang dengan kegiatan Perwari (sekarang jadi Wartel milik Kopegtel). Kami mengenal  novel 5 sekawan enyd blyton, trio detektif Alfred Hitchcock atau HAMKA berkisah tentang nabi dan rasul di perpustakaan ini.

Semua perpustakaan itu hebat.  begitu juga Saija Adinda, Rengganis atau milik Haji Doyo di Empang. Ketiga tempat itu mengantarkan kami, anak-anak kecil Rangkas ke dunia asing yang menggairahkan ketika sekolah menjerembabkan kami dalam tugas-tugas menjemukan (every homework make sick). Jadi kalau ada rencana mengumpulkan uang secara massal untuk penyelamatan, tempat-tempat seperti inilah salah satu yang harus dituju.

(saya koq berfikir ketika Rengganis bermaksud menjual komik-komiknya, seharusnya Pemda’lah yang mesti membeli. 3-5 juta kan kecil. Komiknya bisa dititipkan di Saija Adinda dan anak-anak masih tetap dapat mengakses inspirasi etos kepahlawanan para tokoh fiktif Jaka Sembung misalnya).

Alun-alun

alun2Sebetulnya sangat enggan mencatatkan ini. Sayangnya alun-alun adalah khas untuk banyak kota di tanah Jawa. Di sebelah Baratnya ada masjid Agung dan pasti daerah situ disebut Kaum/kauman.  Kemudian mesti ada penjara dan pendopo kabupaten.

Kenapa enggan ? karena alun-alun adalah pasar interaksi dalam narasi politik. Dibangun secara sepihak oleh penguasa dan menjadi media memelihara kekuasaan. Proyek narsis salah satunya mengambil tempat ini.

Alasan subjektif lain, climbing wall di sisi tenggara harus mengalah. Salah satu sarana untuk membuat laki-laki di Rangkas menjadi sejati berkurang.

SABODO

080503_110240

NYARAP CEEEP……. ? Trade mark sapaannya khas sekali.

Banyak yang menarik dari warung ini. banyak yang bisa diceritakan. Mungkin ini satu-satunya warung yang menerapkan strategi subsidi silang bagi pelanggannya. Misalnya ada soal cerita:

ada tiga orang yang makan di sana. seorang anak berseragam smu, seorang yang berbaju bebas dan seorang berseragam pemda. Menu yang dipesan sama : sebutir telor dan satu potong tempe. Berapa mereka harus membayar ?

Jawab:

anak SMA = 2000

lelaki berbaju biasa = 3000

lelaki seragam pemda= 5000

*tarif lama

sabodo

cerita lain, tempenya enak? mungkin. sulit mencari penjelasan logis dari kreasi kulinernya. sambal dan sayurnya dari dulu itu-itu saja. gogodoh udang, dadar, cabe garam, dan hanya seputar itu. Lokasi di depan rumah syeh Jeni (meski nama ini beken di rangkas tapi saya yakin tidak banyak yang tau orangnya) di belakang kantor pos. jadi para pegawai kantor pos cukup delivery lewat pagar saja. Saya bahkan curiga warung ini sudah tercatat di guidebook para backpacker.

Sabodo, or whatever the name, tersimpan di hati orang-orang rangkasbitung. Setidaknya untuk anak SMU atau para pegawai pemda.

Sirna Rana

sirna-rana Saya tidak menyebut ini landmark. Satu-satunya penjelasan adalah romantisme juga keharusan kita memberikan seluruh respek kepada sikap kepahlawanan. Hal yang diam-diam kita nilai sebagai kebodohan di jaman sekarang.

Kerelaan untuk mati dibunuh. Amboiii…jantan betul. Etos yang kini tertinggal di komik Ganes TH.

Balong

balong

nama lainnya ranca lentah. di jalan Rawa Sari. Dulunya dipenuhi kirai dan angker. Sekarang jadi lebih nyaman dan dipenuhi para pemancing. Saya kira danau ini lumayan pantas jadi ‘landmark’ kota kecil Rangkas.

Bubur Hayam Mang Ahmad

bubur1

Rasanya istimewa? Relatif, ini sekedar subyektifitas saja karena jelas pedagang bubur di Rangkas mungkin lebih dari seratus. Bubur Hayam di Rangkas cirinya adalah kaldu ayam yang encer seperti soto Lamongan. Kerupuknya juga ngirit. hanya beberapa yang itu juga di’kremes’.  Beda dengan di Garut yang kadang perlu mangkok lagi untuk kerupuk.  Ciri yang lain, ada emping tangkil (Melinjo, Gnetum gnemon) yang inipun sudah tidak lagi. Mahal ongkos produksi. Seingat saya, pernah ada pedagang bubur didalam pasar yang pake emping segede kerupuk besar. Saya lupa nama penjualnya.

Oya, Mang Ahmad ini mangkal di jalan utama sunan kalijaga pas dekat belokan ke Kebon Kalapa. Di Trotoar toko yang jadi pabrik disco (itu nama minuman karbonasi kelas kambing). Dekat Bioskop Apollo (oya, ada yang punya foto bioskop gumbira/seminar ? mau dong..). Sejak kanak2, kami yang tinggal di Leuwiranji, Kebon Kopi atau Kebon Kalapa adalah konsumen beliau. apalagi kalo sedang sakit, dagangannya jadi alternatif asupan. Pisau yang tipis dan pendek untuk mensuwir daging ayam, teko air teh yang agak kentob, peci yang selalu melekat menemani kemeja kaosnya dan tumpukan kerat botol disco (atau sirco?). Beres makan dan sebelum pulang, biasanya mampir ke Apollo sekedar melihat poster Enny beatrix atau Eva Arnaz berpose seksi. artis yang menjadi inspirasi seksual kanak-kanak. Lalu melihat tulisan Matine show HTM Rp.300,-. (yg belakangan baru tau matine itu main sore).

Pabrik disco dan Bioskop itu sekarang sudah jadi toko matrial dan swalayan. Juga Terminal dan pasar tradisional di seberangnya. Hanya Mang Ahmad yang masih setia dengan jalan ceritanya.

Gipang

gipang

Kue beras ini setara dengan opak. Warisan kearifan tradisional. Lekat karena gula dan membuat repot setelah memakannya. Kita musti mencungkil-cungkil sisa-sisanya di gigi (baca: nangled). Entah kenapa kue ini selalu disimpan di kaleng biskuit khong guan. Mungkin ibu-ibu kita berfikir toples beling lebih cocok untuk nastar. Bagaimana cara memakannya? dengan kopi dan dengan beberapa kawan mengobrol seru agar kita lupa bahwa itu gipang. hanya dengan cara itu kue ini habis.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.